DeaR,

Update cerita tentang ARTku yang menguji kesabaran beberapa hari yang lalu, akhirnya sebelum waktunya kupulangkan dia dah minta pulang duluan, Kamis kemarin selepas waktu berbuka puasa. Awalnya aku ingin berbagi sedikit dengan dia, yahhh menambah uang gajinya ( yang seharusnya dibayar 3 minggu kerja, tapi akhirnya kubayar full juga ) sebagai gantinya THR yang belum berhak dia dapatkan karena belum lama kerja dengan beberapa bingkisan hari raya, namun…akhirnya aku mengurungkan niatku ( maafkan aku Ya Allah telah mengurungkan berbuat baik padahal dah niat…:-( ), pertimbangannya tentu saja sikap yang dia tunjukkan tidak kunjung membaik tapi malah makin memburuk. Tepatnya aku juga ga bias menduga dengan tepat apa yang membuat dia mendadak pulang, karena aku belum memberitahu dia kalo dia akan aku pulangkan sabtu pagi besok dan aku ga kasak-kusuk menandakan orang mau pulang kampung. Tapi mungkin gara-gara ibuku yang hari rabunya menyuruh dia membersihkan kamar mandi belakang karena nampak kotor belum dibersihkan ( pdhl jadwalnya hari senin ) tapi dia ngeyel dia bilang kan “bersihinnya seminggu sekali bu, tiap senin” tapi kata ibuku “bersihkan sekarang karena senin kita mo pulang” . Yah gara2 perkataan ibuku itu ART itu langsung bilang ” berarti saya pulang dong bu?” , ibu bilang ya liat nanti bekum tentu senin kita pulang kampung, wew…tapi amazing..langsung deh dia sekalian bersihin kamar mandi dalam ( kamarku ) dengan semangatnya. Sepertinya dia udah ga betah juga kali ya mengingat aku dah mendiamkan dia sejak peristiwa “remote” itu…dan ga pernah ngomong lagi sama dia kecuali kepaksa.

Nah..akhirnya kamis sore itu dateng juga, aku pulang kantor, makan trus sholat begitujuga anggota keluarga lainnya. Selesai, ART itu dengan hebohnya turun dari tangga ( kamar ART kebetulan berada di atas bareng ruang setrika ), tanpa babibu langsung bilang ke suami ” pak, saya mau pulang sekarang ajah! takut kemaleman di jalan! ” dengan nada yang amat sangat kasar dan seperti setengah mengancam ” gaji gue mana??? ” . Ya Allah tarik nafas panjang…sabar, beberapa detik lagi dia akan pergi! begitu batinku dalam hati. ART itu pamit hanya pada suamiku ( terutama karena dia merasa yang menggaji dia adalah suamiku ) kalo ga diingetin pamit sama aku, dia juga ga pamit….dengan kata-kata minta maaf yang penuh dengan basa-basi ga jelas!. ART itu pulang dengan membawa gaji full sebulan+ongkos pulang ke kampungnya+sekaleng biskuit+sirup dengan wajah yang sumringah….

Sesaat setelah ARTku pergi, Ibuku baru berani cerita ke aku tentang beberapa kejadian dirumah selama aku ga ada, katanya kalo diceritain ke aku sebelum ART itu pergi nanti aku jadi tambah stress….hehehe.🙂. Dan inilah ceritanya :

1. Waktu Ibuku menyuruh ART itu untuk mengganti sapu untuk menyapu karena dianggapnya terlalu kecil, dia ngeyel katanya aku nyuruhnya pake sapu itu ( emang si aku yang nyuruh pake sapu itu, aku pikir cukup bersih untuk nyapu, tp seharusnya dia nurut aja ya dengan kemauan ibuku tanpa banyak alesan ), Ibuku bilang kalo pake sapu yang kecil nanti kurang bersih. Lalu ART itu menjawab “Ibu ( aku ) soalnya ga pernah pegang sapu” . Ya Allah jawabannya cukup membuat hati panas ya..lalu ibuku kesel juga dan bilang ” bukan ga pernah pegang sapu, tapi udah ada yang sapuin “.

2. Waktu aku akan pergi ke dokter buat imunisasi Haidar, Ibuku menyuruh ART itu untuk membukakan pagar waktu mobilku keluar, ART itu jalan menuju keluar rumah, tapi apa yang dia ucapkan ” udah bu. udah ada bapak ( ayahku ) yang bukain pagar, dan dia kembali duduk sambil nonton TV!!!!! ” Ya ampun….emang bapakku sapa??? dia sapa???? loh seharusnya bukannya dia menghampiri bapakku dan mengatakan “sini pak, biar saya bukakan pintu pagarnya “??? bukannya malah langsung melengos masuk ke dalam rumah trus nonton TV seolah-olah bapakku tu temennya sesama pembantu???. Ya Allah……aku ajah ga pernah membiarkan bapakku membukakan pintu pagar untuk aku kecuali dalam ke

ya itu hanya beberapa dari banyak kejadian yang benar-benar menguras energi kesabaranku… oh ya, waktu hari pertama kerja ARTku pernah bilang ” saya suka antara majikan dan pembantu itu ga ada batesnya, saya ga suka kalo dibatesin”. Ya Allah saat itu yang terpikir olehku yang ga ada batesnya tu komunikasi antara kami, maksudnya ga kaku gitu. Ya ampun ternyata yang ada dipikiran ARTku itu dalam segala hal, punyanya majikan punya dia juga, dan semua sama. Pantes selama ini ARTku itu ga ada sopan santunya sama sekali.