Posts from the ‘Share-Pengalaman’ Category

Sekali lagi ujian RUM : Suami sakit Demam Dengue (Demam Berdarah)

Kamis. 02 Desember 2010
Hari ini aku baru masuk kantor. Setelah 3 hari dirumah merawat suami yang terkena demam dengue alias demam berdarah. Ujian RUM kali ini aku rasa yang paling menguras fisik dan emosi, terutama emosi, dari tenang,panik,tenang,panik lagi sampai benar-benar tenang. Alhamdulillah di 24 jam ke 7 atau hari ke 7 sakitnya kondisi suami (Aat) semakin membaik dan berangsur stabil. Berikut cerita lengkapnya, mudah-mudahan sharing ini bermanfaat ya buat yang membaca, amiin. :).

#FlashBack

1. Rabu, 24 November 2010
Pagi hingga menjelang sore, Aat ga ada keluhan apa,semua berjalan seperti biasanya. Sampai saat di perjalanan pulang, di bis jemputan kantor, Aat telepon, dan bilang kalau dia mengigil, demam dan sakit kepala. Saat itu Aat masih di kantor, dan ingin pulang cepat. Karena aku pikir masih sakit common problem, jadi masih aku bawa santai dan tenang-tenang saja. Sesampai dirumah, Aat yang pulang kantor lebih cepat terlihat lebih pucat dan lemas. Langsung aku suruh bersih2, ganti baju dan tiduran, aku bikinkan teh manis hangat + minum sesendok madu abis makan. Suhunya aku ukur, 38.3 dercel. Saat sampai rumah ini, malamnya Aat mengeluh, paha dan kakinya linu-linu seperti ditarik beban berat dan rasanya menetap, ga timbul hilang, nyeri pinggang. Aat aku kompres air hangat dan banyak-banyak minum. Malamnya suhu badan Aat naik menjadi 39.6 dercel, selain kompres air hangat, Aat minum paracetamol.

2. Kamis,25 November 2010
Pagi hari suhu badan Aat sudah turun ketimbang malam tadi, suhunya 38.3 dercel, kondisi klinis Aat, nyeri dan linu di pinggang,paha dan kaki sudah mereda, tapi sakit kepala dan mata sembab masih ada, dan sekarang ditambah mulut terasa pahit, sehingga Aat ga nafsu makan. Hari ini entah kenapa, feeling-ku mengatakan Aat akan sakit demam dalam jangka waktu yang lama, tidak seperti biasanya dia sakit demam, karena biasanya kalau Aat demam tinggi minum parasetamol, beberapa jam kemudian suhunya akan langsung turun. Dan karena feelingku tadi aku memutuskan untuk tidak masuk kantor, aku ingin mengamati perilakunya dan berharap suhu badan Aat akan turun hari ini. Tapi ternyata harapanku tidak seperti yang kuharapkan. Menjelang sore suhunya justru naik menjadi 38.8 dercel dan malamnya naik lagi menjadi 39.2, malamnya Aat baru minum paracetamol lagi. Dan tentunya kompres air hangat, banyak minum, minum madu, makan juga ngemil dikit-dikit (walaupun masuknya juga ga banyak).

3. Jumat. 26 November 2010
Pagi ini aku terpaksa masuk kantor, karena ada kerjaan kantor yang ga bisa ditinggalkan. Suhu badan Aat sudah turun (karena minum paracetamol malamnya), namun turunnya suhu badan Aat masih di seputar 38an dercel. Pagi ini suhunya 38.3 dercel. Siang, ketika aku telepon dari kantor suhu badan Aat masih di 38.5 dercel, cenderung naik,sorenya ketika aku pulang kantor, suhu badan Aat malah tambah naik di 39.2 dercel, sementara kondisi klinis Aat, matanya masih sembab dan sakit kepala, mulut pahit selain demamnya yang tinggi. Gejala batuk,pilek atau penyakit common problem lainnya belum juga tampak. Akhirnya buka-buka materi PESAT, dan aku menduga dari ciri-cirinya yang ada pada Aat, jangan-jangan dia kena demam dengue. Well, masih cukup tenang saat itu, walaupun mulai sedikit takut. Malamnya suhu badan Aat mereda, karena pengaruh paracetamol yang diminumnya sore tadi.

4.Sabtu, 27 November 2010
Hari ini sore nanti, demam Aat tepat 24 jam ke 3 atau tepat 72 jam, masih tidak ada tanda-tanda atau gejala common problem. Suhu badan Aat masih di seputar 38an dercel. Aku semakin curiga kalau demam Aat hari ini adalah demam dengue. Akhirnya sore harinya, kami menuju markas sehat untuk memeriksakan kondisi Aat dan memastikan demam apa yang sebenernya diderita oleh Aat.
Pukul 17.00 kami sampai di markas sehat, kali ini kami ketemu dokter Felix, orangnya baik, teliti, dan ramah dalam memberikan penjelasan. Suhunya diukur di markas malah turun jadi 37.7 dercel. Setelah dilaksanakan pemeriksaan dokter felix menyimpulkan kalau Aat menderita demam karena virus biasa. Dokter felix juga minta untuk dilakukan test darah,sehabis pulang dari markas sehat. Aatpun melakukan test darah dengan hasil sebagai berikut :
Hb :16
Ht : 47,
Leukosit : 4.38,
Trombosit : 180rb.
Diff.Count :
Neutrofil segmen 63
Eosinofil 0,
Basofil 2,
Limfosit 22
Monosit 13

Setelah itu aku mengirimkan sms mengenai hasil test lab tersebut ke dr.felix, dokter masih berkesimpulan sama kalau Aat sakit demam karena virus biasa, namun mengarah ke demam dengue. Akupun melanjutkan treatment seperti yang sudah aku lakukan sebelumnya.

5.Minggu,28 November 2010
Hari ini pergerakan demam Aat masih seperti sebelumnya berkisar disuhu 38.3 – 39.6 dercel, kalaupun turun ke angka 37an dercel lebih kepada karena pengaruh paracetamol yang diminum saat demam dah tinggi. Kondisi klinis Aat, sakit kepala masih ada dan mata masih sembab,untuk nyeri pinggang dan linu-linunya sudah mereda. Treatment yang kulakukan juga masih sama seperti sebelumnya.

6.Senin,29 November 2010
Hari ini, aku sebenarnya ingin masuk kantor,namun karena aku melihat kondisi Aat yang masih belum stabil, akhirnya aku ga jadi masuk kantor. Sama seperti hari-hari sebelumnya pergerakan demam Aat juga masih belum stabil. Kondisi klinis Aat hanya merasakan sakit kepala dan mulut pait. Aku sms dr.Felix lagi, dokter kembali menyuruh Aat untuk test darah dan test urinalisasi (utk tahu apakah ada silent ISK).
Dan hasil test lab.nya adalah :
Hb 15,9
Leukosit 3.34
Ht 46
Trombosit 114
Diff.Count :
Neutrofil segmen 52
Eosinofil 0
Basofil 1
Limfosit 29
Monosit 18
Sedangkan hasil urinalisasi semua bagus, jadi kemungkinan silent ISK disingkirkan. Ya,akhirnya dokter menyimpulkan kalau suami terkena demam dengue. Dokter bilang treatment dilakukan sperti biasa, dan 12jam kemudian atau besok pagi lakukan test darah lagi. Dan kalau hasil test darah besok pagi,trombosit langsung turun dibawah 100rb, langsung dirawat di RS. Saat itu,karena pengalaman pertama, aku sempat panik,stres dan takut,bolak-balik baca materi PESAT,tanya temen2,googling tetep aja msh gelisah juga. Sempat terpikir apa langsung bawa aja ke RS,minta rawat inap tanpa test darah lagi.
Cuman lagi2 aku menyakinkan diri sendiri,melihat hasil test darah hematokrit masih normal dan suami bilang kalo dia ga lemes atau letargi, hanya sakit kepala,demam tinggi,dan mata sembab. Akhirnya niat itu kubatalkan. Dan malam itu aku ga bisa tidur,bolak balik ngecek suhu suami,begitu sudah 39,2 – 39,6 aku suruh minum paracetamol. Sejak Aat positif dinyatakan terkena demam dengue aku selalu ber-BBM ria dengan Jeni karena dia sudah pengalaman sebelumnya merawat adiknya yang terkena demam dengue alias demam berdarah juga, dan berhasil dengan cara hometreatment (makasi banget ya Jen,terutama saran untuk membuatkan jus bit dan jambu agar membantu trombosit Aat segera naik. :), hehehehe mana tau aku sebelumnya kalau jus bit bisa membantu menaikkan trombosit).

7.Selasa. 30 November 2010
Paginya, Aat melakukan test darah lagi, dan hasilnya
Hb : 15.2,
Leukosit : 3.63
Ht : 43
Trombosit : 112
Diff.Count :
Neutrofil segmen 39
Eosinofil 0
Basofil 2
Limfosit 31
Monosit 28
Alhamdulillah Trombosit masih diatas 100, dan Hematokrit normal. Jadi bisa hometreatment dirumah dan ditreatment seperti sebelumnya. Oh ya menjelang siang suhu suami turun menjadi 36,5 – 37,2.
Nah, pas sorenya ketika aku memeriksa badan Aat, aku menemukan kok di paha sama kaki Aat muncul bintik-bintik merah ya? Awalnya aku pikir, ah gpp kan memang demam dengue.
Sampai aku ngetwit, dan Jeni bales twitku “wah sar klo ada bintik-bintik merah jangan-jangan ada pendaharahan bawah kulit,langsung rawat aja deh”.
Again, paniik! sms dr.Felix,dokter ga bisa memastikan bintik itu karena ada indikasi dbd atau bukan (kirim poto ga jelas,dodol ya iyalah,lagian kan harus diperiksa langsung!), googling di internet nyari gambar bintik merah krn dbd ga ketemu (udah panik duluan si…), paha dan kaki Aat aku regangin kok bintik merahnya ga ilang (makin panik). Aku dan Aat mau ke markas sehat, tapi dr.Felix ga praktek hari itu, telp-in markas sehat buat daftar ga diangkat-angkat dan sms juga tidak dibalas.
Ahh…bener2 panik saat itu. Sampe mau daftar dokter internist di RS terdekat,eh kok kebetulan dokternya penuh semua (yg ini ragu-ragu banget sebenernya dan pasrah klo perjuangan RUM harus sampai disini, karena aku tau pasti lsg suruh rawat deh lihat hasil test darah sebelumnya). Di detik-detik ini aku bener-bener dah hampir nangis,panik,sedih, dan lemas, karena takut terjadi kenapa-kenapa sama Aat. Beruntung aku punya teman-teman yang care, khususnya Indah yang selalu menenangkan diriku saat perjalanan ke markas sehat (makasi ya Ndah, means a lot to me :)), Jeni , Ayu , Resti yang memberikan saran,masukan,dan support yang luar biasa kepadaku…. :).
Akhirnya kita mutusin pergi ke markas sehat, dan terus mencoba menghubungi markas sehat, dr.Felix bantuin hubungi juga (baiknya dokter… :)). Alhamdulillah markas sehat bisa dihubungi juga, dan kita ketemu dr. Astrid disana.
Yak, setelah diperiksa teliti, dilihat hasil test darahnya, ditensi darahnya trus di test ramplet atau apa gitu? (Hehehe,lupa aku namanya) jadi dipompa sampe maksimal trus ditahan sampe 3 menitan sampe keliatan uratnya, ternyata ga muncul bintik-bintiknya,klo positif ada pendarahan dibawah kulit dia akan muncul bintik-bintik merah. Dan dilihat bintik-bintik merahnya,diregangkan ternyata memudar warna merahnya (oalah bodohnya,patokannya kok merahnya ilang,hehehe) jadi bukan indikasi dbd atau ada pendarahan bawah kulit. Jadi bintik merahnya ada karena trombositnya sedang turun aja.
Alhamdulillah ga perlu dirawat.
Aaah legaaa… dr.Astrid bilang hanya cukup istirahat,bedrest,dan perhatikan gejala klinisnya. Dan dokter bilang, kalo ada indikasi dbd, seharusnya di pemeriksaan test darah terakhir,trombositnya sudah turun drastis dibawah 100rb, serta hematokritnya sudah naik 2x lipat dari range normal. dr.Astrid memberikan Aat surat dokter untuk istirahat bedrest dirumah sampai hari Jumat.

Jumat,03 Desember 2010
Alhamdulillah kondisi Aat semakin membaik hari ini, dan sudah stabil, sakit kepalapun sudah hilang. Kondisi Aatpun telah normal kembali. Terima Kasih Ya Allah, aku telah mampu melewatinya walaupun dengan susah payah dan berpanik ria. Terima kasih juga untuk Web Milis Sehat , Milis Sehat , Bunda Wati, dan Dokter-dokter di Markas Sehat , karena telah menjadi sumber referensi dan pembelajaran yang benar tentang tata laksana penanganan pada demam dengue atau demam berdarah yang benar dan tepat.

Berikut ini,beberapa link mengenai demam dengue atau demam berdarah bisa dilihat di Tulisan dr.Purnamawati dan di sini ( Demam Dengue dan Demam Berdarah ).

Me-Remove Ticker I’ve Been BreastFeeding For..

DeaR,

Menghapus Ticker ini ternyata tak semudah yang dibayangkan dan dilakukan, jujur ticker ini merupakan ticker kebanggaan aku, yang menyatakan aku telah berhasil menyusui selama ini. Namun semua itu kembali lagi pada kenyataan ya…Aku ga mau membohongi diriku sendiri terlebih publik, kalau ternyata aku sudah tidak menyusui Haidar lagi. Dan baru hari ini keberanian itu ada, mengakui bahwa salah satu kebanggaanku tidak lagi kulakukan selama ini.

Haidar telah menunjukkan gelagat ogah-ogahan mimik ASI lagi sebenernya sejak menjelang usianya yang hampir menginjak 12 bulan, ditandai dengan mimik ASIP ( ASI Perah ) yang tidak sebanyak biasanya ketika aku berada di kantor, tetapi hanya mau mimik langsung dari aku langsung, jadi ketika aku pulang kantor Haidar ngebut nenennya. :-). Akhirnya banyak ASIPku yang didonorkan kepada ibuk-ibuk lain yang membutuhkan dan kubuat untuk campuran makanan (walaupun Haidar tidak terlalu suka juga), dan lebihnya lagi dengan amat sangat terpaksa kubuang *nangiss…

Ketika Haidar menginjak usia 13 bulan tepatnya ketika sembuh dari sakitnya, Haidar benar-benar menolak menyusu. Semua terjadi begitu saja, saat Haidar kuposisikan posisi menyusui dia menangis meraung-raung dan menolak dengan keras, aku mengalah dan mencari-cari apa penyebabnya, mungkinkah Haidar terkena “nursing strike”? apa ada suatu kejadian yang membuat Haidar tidak mau menyusui lagi? . Dan selalu kucoba tawarkan lagi, lagi dan lagi,namun Haidar tetap menolak dengan keras.
Setelah kurenungkan lagi, ga ada tanda-tanda itu diatas. Namun baru kusadari ternyata Haidar sekarang bila melihat putingku seperti melihat dalam pandangan seorang lelaki dewasa (maaf jika kalimatnya vulgar), terus terang akupun sedikit risih, mungkinkah itu penyebabnya? dan sampai sekarang juga seperti itu, tiap kali aku masih berusaha tawarkan untuk menyusui lagi.

Akhirnya setelah berulangkali mencoba dan mencoba, Haidar resmi tidak menyusui lagi diusianya yang ke 13 bulan lebih alias Haidar meng-Weaning dirinya sendiri. Sediiih? jelas! Ingin menangis rasanya….bahkan sampai sekarangpun aku selalu merindukan saat menyusui Haidar. Namun aku berusaha meng-Ikhlaskan diri bahwa Haidar sudah tidak mau menyusui lagi dan menghargai keinginan Haidar untuk tidak menyusui lagi. Haidar sekarang resmi minum Susu Pasteurisasi sebagai pengganti ASInya…

Dan keberanian meRemove Ticker I’ve Been Breastfeeding For….baru sekarang muncul. Mohon maaf jika sebelumnya aku masih mengakui kebanggaanku itu dan secara ga langsung membohongi diriku sendiri juga. *Nangis lagiii…

Alhamdulillah Haidar telah menyusui selama 1 Tahun 1 bulan lebih, terima kasih Ya Allah atas anugerah Air Susu Ibu yang telah KAU berikan kepadaku. Amiin.

Haidar Imunisasi Simultan MMR dan Hepatitis A

Dear,

Tanggal 06 Mei 2010 Haidar genap berusia 15 Bulan. Di usia Haidar yang menginjak 15 bulan ini, jadwal Imunisasi Haidar adalah MMR. Jujur ini adalah Imunisasi Haidar yang paling aku takuti dan khawatirkan. Padahal dah banyak banget baca buku, artikel maupun referensi ilmiah dan dapet pencerahan waktu ikutan PESAT Jakarta, tapi tetep aja rasa was-was ada. Hingga perkembangan Haidar selalu aku ikuti dengan detail dan selalu kuingat Haidar dah bisa apa aja. *terlalu paranoid yak? hehehehe.

Akhirnya setelah berdiskusi sana-sini, tanya-tanya sama para ibuk-ibuk yang anaknya sudah diImunisasi MMR lebih dahulu, dan BBG-an sama enak-emak di Happy Mommies aku memantapkan diri untuk meng-Imunisasi Haidar MMR, dan pilihan dokter yang akan melakukan Imunisasipun jatuh kepada Bunda Wati (dr.Purnamawati S.Pujiarto), sekalian juga melihat Pertumbuhan Haidar (khawatir TBnya dari GC grafiknya kok bergerak menurun) dan Perkembangan Haidar. *hehehehe, biar lebih mantap.

Alhamdulillah Haidar dapet untuk konsul ke Bunda wati di KMC di hari yang telah aku rencanakan sebelumnya. Saat Haidar ditimbang BBnya sekarang adalah 9.11 kg ( cuman naik 200 grm, hmm….pdhal kemarin naik sampe 600 grm *ikon mikir , sepertinya dia aktif banget memang akhir-akhir ini makanya naiknya irit ) dan TBnya sekarang adalah 73 cm ( Upss…makin khawatir, kok naiknya cuman 1 cm ya? *catatan dia diukur dengan cara berdiri dan Haidar mondar-mandir). Saat masuk ke ruang praktek dr.Wati langsung kuutarakan niatku dan meminta dr.Wati untuk menilai perkembangan Haidar sebelum diImunisasi, dan dr.Wati hanya tertawa terkekeh-kekeh, katanya “Haidar sehat kok, lagian ga ada hubungannya antara perkembangan anak dengan Imunisasi MMR”, aku jawab ” Iya si dok, *sambil pipi merah merona malu…hallah lebaay! , tapi untuk lebih menguatkan dok”. Kemudian dr.Wati menambahkan sekalian Imunisasi Hepatitis A ya? biar efektif dan nanti umur 2 tahun, Imunisasi yang tersisa tidak banyak, kau langsung mengiyakan setuju. Akupun menerangkan dengan detail tentang kekhawatirkanku tentang TB Haidar, dan aku tunjukkan print out plot GC Haidar tiap bulannya, dr.Watipun mememutuskan untuk diukur ulang dan Hasilnya? ternyata TB Haidar yang benar adalah 75cm! *huh!jadi bete sama susternya… dan Normal,namun kata dr.Wati tetap harus dipantau tiap bulannya. Kalau nanti perkembangannya menurun atau stagnan, konsultasikan dengan dr.ahli gizi atau dr,anak spesialis endokrin (cmiiw ya…pokonya spesialis ttg TB anak ). Oh ya, dr.Wati menyarankan untuk banyak-banyak main di udara terbuka, dilapangan suruh maen bola (hehehe, maklum rumah bukan di perumahan cluster, ga ada tamannya..jadi paling banter Haidar maen di carport alias teras samping parkir mobil :p).

Alhamdulillah legaaaanyaaa aku, ketakutan terbesarku terlewat sudah yaitu Imunisasi Haidar MMR, dan senaanngg bisa simultan Hepatitis A.. :-). Dan lebih senaaaannng lagi Pertumbuhan dan Perkembangan Haidar baiikkkk….Dan sampe tulisan ini dibuat Haidar semakin lancaaar ngomongnya dan semakin aktif,kosakata bicaranya juga semakin banyak. Alhamdulillah….

Haidar Sakit HFMD

Dear,

Tepat setelah usianya menginjak 12 Bulan alias 1 tahun tanggal 05 Februari 2010 yang lalu, Tanggal 23 Februari 2010 yang lalu, Haidar positif sakit HFMD.

Tanggal 22 Februari malam, 23 Februari , jam 03.00 dinihari
Haidar terbangun dari tidurnya dan menangis keras, ketika dipegang badannya suhunya tinggi alias demam, setelah kususui, aku ukur suhunya dan suhu demamnya 38,6 C.Terus terang panik dan kaget karena sorenya sebelum tidur Haidar tidak menunjukkan tanda-tanda demam ataupun tanda-tanda common cold lainnya. Tanpa pikir panjang aku beri Haidar paracetamol, takarannya sesuai dengan usianya.Haidar kembali tidur sementara aku dan suami terus terjaga.

Tanggal 23 Februari pagi hari, jam 06.00
Suhu Haidar masih tinggi, masih diangka 38 C, tadinya aku ingin tetap berangkat ke kantor saja, karena tanda-tanda sakitnya hanya demam. Tapi setelah Haidar dimandikan muncul semacam bintik-bintik seperti cacar air di kakinya, ciri-cirinya persis seperti cacar air, saat itu aku berkesimpulan klo Haidar kena cacar air, dan dikuatkan dengan Haidar belum di vaksinasi Varicella. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak berangkat ke kantor, dan kebetulan suamiku sedang ada jadwal keluar kota, diapun cemas meninggalkan Haidar.

Tanggal 23 Februari jam 12.00
Sampe jam 12.00 suhu Haidar aku ukur terus tiap 2 jam sekali dan suhunya manteng teruss di 38C (walaupun telah diberi paracetamol tiap 6 jam sekali dan dibantu kompres air hangat), rasa khawatir mulai meninggi tapi aku berusaha bersikap rasional dan memantau terus Haidar. Haidar sudah terlihat tidak aktif, ga ada lagi canda,ga ada lagi tertawa, ga ada keliling-keliling merangkak dan usahanya dalam belajar jalan. Haidar hanya murung dan diam,makanpun dia ga semangat tapi mimik ASI masih mau…
Jam 12.00 setelah menyusui dan kupeluk erat-erat karena Haidar sudah muali rewel, dan lemas. Suhu badannya aku ukur, dan sungguh terkejutnya aku karena suhu Haidar merangkak naik menjadi 41,7 C. Saat itu rasionalku hilang, kulihat Haidar sudah setengah tak sadarkan diri, dia hanya diam dan meringkuk di pelukanku….aku panik dan takut. Spontan aku telp suamiku untuk segera pulang, maafkan aku ya Mas, saat itu suamiku hampir naik ke pesawat. Ibukupun ga kalah panik dan menyalahkan aku karena tidak segera dibawa kerumah sakit. Aku langsung menghubungi KMC untuk pendaftaran dan meluncurlah kesana.

Tanggal 23 Februari jam 13.00 di KMC
Tiba di KMC, suhu Haidar diukur dan Alhamdulillah turun di suhu 38,5C dan perilaku Haidar mulai normal serta kesadaran Haidar seperti biasanya, (sepanjang perjalanan ke RS aku susuin Haidar terus dan kompres dengan air hangat).
Saat masuk ke ruang praktek dokter, barulah diketahui kalo Haidar bukan sakit cacar air melainkan sakit HFMD dan bintik-bintik itu disebut dengan sariawan,dilihat dokter dimulutnya ada lagi bintik seperti di kakinya. Aku menceritakan dengan detail tata laksana demam yang telah aku lakukan ke Haidar, dokter bilang sudah tepat, sambil memberikan pengertian juga ke ibuku (yang sudah marah2in aku gara-gara aku ga cepet-cepet bawa Haidar ke RS), ga lama suamiku datang dan langsung berkonsultasi dengan dokter dan semakin memantapkan tata laksana yg kita lakukan sudah benar. Dan mengenai perilaku setengah sadar Haidar itu ternyata karena suhu badannya yang tinggi saat itu, makanya dia lemas dan terlihat setengah sadar.
Akhirnya kami pulang tanpa membawa oleh-oleh obat sama sekali, hanya observasi dan berikan paracetamol jika suhu Haidar sudah mencapai 39 C lebih, tapi tetap dipantau juga suhunya.
Dokter bilang HFMD ini nanti akan sembuh dan menghilang dengan sendirinya, bintik-bintiknya akan hilang seiring dengan normalnya suhu tubuh atau juga bisa bintik-bintik muncul baertambah banyak ketika suhu berangsur normal. Oh ya HFMD ini menular, oleh karena itu pisahkan selalu barang-barang termasuk peralatan makan yang digunakan oleh penderita.
Dokter juga bilang kalo terdapat tanda-tanda kegawatdaruratan baru bawa kembali ke RS.

Tanggal 23 Februari jam 15.00
Sampai dirumah, suhu Haidar masih tetap di angka 38 C, namun Alhamdulillah perilaku Haidar dah mulai seperti biasanya, mulai mau ngoceh-ngoceh. Alhamdulillah sedikit lega.

Tanggal 23 Februari jam 19.00
Suhu Haidar merangkak naik lagi manjadi 39 C, aku berikan parasetamol, disusuin dan dikompres air hangat terus-menerus dan Alhamdulillah 2 jam kemudian suhunya berangsur-angsur turun menjadi 37 C.

Tanggal 24 Februari
Suhu Haidar sudah normal, bintik-bintik sariawannya mulai memudar tapi masih ada

Tanggal 25 Februari
Suhu Haidar sudah normal dan bintik-bintik sariawannya sudah hilang dan bintik-bintik sariawannya tidak bertambah.

Tanggal 26 Februari s/d 29 Februari
Alhamdulillah Haidar sudah sembuh dan bebas dari sakit HFMD

Ini merupakan pelajaran RUM ( Rational Use Medicine) ku yang pertama, tetep aja yaa rasa panik dan khawatir itu tetep ada…Alhamdulillah aku dikelilingi dengan teman-teman dan sahabat yang selalu mendukungku, makasi to “happy mommies” dan Tyas yang selalu memberikan infonya. Pelajaran yang aku ambil adalah aku mesti harus belajar untuk tidak panikkan lagi dan lebih rasional.

Tentang HFMD ( dari temen Happy Mommies – AyuRayyan *peluuk Ayu )

Hand, foot, and mouth disease (HFMD)
is a common viral illness of infants and children. The disease causes fever and blister-like eruptions in the mouth and/or a skin rash. HFMD is often confused with foot-and-mouth (also called hoof-and-mouth) disease, a disease of cattle, sheep, and swine; however, the two diseases are not related—they are caused by different viruses. Humans do not get the animal disease, and animals do not get the human disease.

Illness
The disease usually begins with a fever, poor appetite, malaise (feeling vaguely unwell), and often with a sore throat.
One or 2 days after fever onset, painful sores usually develop in the mouth. They begin as small red spots that blister and then often become ulcers. The sores are usually located on the tongue, gums, and inside of the cheeks.
A non-itchy skin rash develops over 1–2 days. The rash has flat or raised red spots, sometimes with blisters. The rash is usually located on the palms of the hands and soles of the feet; it may also appear on the buttocks and/or genitalia.
A person with HFMD may have only the rash or only the mouth sores.

Cause
HFMD is caused by viruses that belong to the enterovirus genus (group). This group of viruses includes polioviruses, coxsackieviruses, echoviruses, and enteroviruses.
Coxsackievirus A16 is the most common cause of HFMD in the United States, but other coxsackieviruses have been associated with the illness.
Enteroviruses, including enterovirus 71, have also been associated with HFMD and with outbreaks of the disease.

How It Is Spread
Infection is spread from person to person by direct contact with infectious virus. Infectious virus is found in the nose and throat secretions, saliva, blister fluid, and stool of infected persons. The virus is most often spread by persons with unwashed, virus-contaminated hands and by contact with virus-contaminated surfaces.
Infected persons are most contagious during the first week of the illness.
The viruses that cause HFMD can remain in the body for weeks after a patient’s symptoms have gone away. This means that the infected person can still pass the infection to other people even though he/she appears well. Also, some persons who are infected and excreting the virus, including most adults, may have no symptoms.

HFMD is not transmitted to or from pets or other animals.

Untuk lebih jelas lagi bisa buka di http://www.mayoclinic.com or http://www.kidshealth.org